Menjaga Kebersihan dan Kesucian

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ada dua istilah yang kadang menjadi satu dan kadang terpisah kondisinya, bersih dan suci. Kadang kita menemukan tempat yang tampak sangat bersih, namun tidak suci. Sebagaimana kita temukan pula tempat yang suci, namun tampak tidak bersih. Semestinyalah kebersihan dan kesucian menjadi satu kesatuan yang tidak dipisahkan, karena akan menjadi masalah apabila keduanya berada dalam kondisi yang terpisah.

Bersih itu terkait dengan kotoran yang sifatnya umum. Sedangkan suci terkait dengan najis. Semestinya keduanya menjadi satu kesatuan, agar seluruh bagian dari kehidupan kita menjadi bersih dan suci, sehingga menjadi modal untuk menjalani kehidupan dalam berbagai bidang. Hidup yang bersih dan suci, hidup yang terjauhkan dari berbagai macam kekotoran dan najis.

Jika kita bepergian ke berbagai negara yang mayoritas warganya bukan beragama Islam, salah satu yang sering menjadi pertanyaan adalah aspek kesucian tempat. Bukan aspek kebersihannya. Sangat mudah kita jumpai sarana publik yang sangat bersih, karena sudah menjadi standar kehidupan masyarakat di negara maju. Namun masalah kesucian menjadi sangat penting bagi umat muslim karena menjadi bagian dari ritual ibadah.

Kesucian dan kebersihan badan, pakaian dan tempat tinggal atau tempat kegiatan merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan bagi umat Islam agar bisa melaksanakan ibadah yang  dikatakan sebagai “tiang agama”, yakni shalat. Tidak  hanya itu, bahkan kesucian dan kebersihan itu sendiri menjadi landasan untuk melaku­kan  setiap bentuk ibadah. Umat Islam dididik untuk tidak  suka  kepada  hal yang kotor, agama menuntut mereka untuk senantiasa menjaga kebersihan,  di setiap tempat,  di setiap saat. Kesucian dan kebersihan mencakup bersihnya lahir maupun batin.

Kalau  kita  renungkan, sebenarnya  kebersihan  itu  sendiri merupakan hal yang fitrah, artinya ia merupakan kebutuhan setiap manusia yang sehat akalnya. Tanpa ajaran agama pun, manusia juga  punya kecenderungan untuk senantiasa bersih.  Namun dalam agama Islam ternyata kebersihan dan kesucian ini menjadi satu titik perhatian yang sangat penting.            Begitu tinggi  nilai kebersihan dan kesucian, sehingga  dihadirkan dalam beberapa ayat untuk senantiasa menjaga kebersihan :

Dan pakaianmu bersihkanlah” (Al Mudatsir : 4 )

Dan jika kamu junub maka mandilah” (Al Maidah : 6).

Kebersihan  dan kesucian memang  modal utama. Dalam ilmu  kesehatan  juga kita  jumpai,  segala hal yang kotor itu  cenderung  mendatangkan penyakit.  Rumah yang kotor, pakaian yang kotor, dan tubuh  yang kotor lebih cepat mendatangkan penyakit, termasuk pula jiwa  yang kotor. Allah Ta’ala  mencintai  hambanya  yang  senantiasa menjaga  kebersihan, baik lahir maupun bathin.

Sesungguhnya  Allah mencintai orang-orang yang  taubat  dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri” (Al Baqarah : 222).

Dan Allah mencintai orang-orang yang bersih” (At  Taubah : 108).

Bahkan untuk hal yang kelihatannya sangat sepele, seperti membersihkan diri  setelah kencing,  tetapi ternyata pengaruhnya sangat besar. Suatu  ketika Nabi saw lewat pada dua buah kubur, lalu sabdanya :

“Kedua  mereka  sedang  disiksa, dan  disiksa  itu  bukanlah disebabkan  pekerjaan  berat. Salah  seorang  diantaranya  adalah karena tak hendak bersuci dari kencingnya sedang yang lain ialah karena pergi mengadu domba” (HR Jama’ah).

Ternyata  amat besar akibat yang diderita  oleh  orang-orang yang menyepelekan kebersihan dan kesucian. Maka Nabi saw menegaskan :

“Kebersihan  itu sebagian dari iman” (HR. Muslim  dan  Ahmad).

Hal ini tentu semakin menyadarkan kita akan arti penting kebersihan. Seluruh  aktivitas semestinya bermula dari kebersihan dan kesucian. Kebersihan  niat, yakni  ikhlas dalam pengerjaan. Kebersihan tujuan, yakni  melakukan kebaikan. Kebersihan badan,  pakaian dan tempat, sangat menunjang kekhusyukan ibadah yang kita lakukan. Oleh karena itu, bisa kita pahami mengapa sampai  dikatakan sebagian atau bahkan separuh dari iman.

“Kemudian  Nabi menyebut seorang laki-laki yang  pergi  jauh dalam  keadaan  kotor rambutnya,  kotor  mukanya,   memanjangkan tangannya ke langit seraya berkata : “Ya Rabbi,  ya Rabbi”, sedang makanannya  haram, minumannya haram,  pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagai­manakah mungkin akan dikabulkan doanya ?” (HR. Muslim).

Mari kita selalu menjaga kebersihan dan kesucian. Bersih hati, bersih pikiran, bersih badan, bersih amal kegiatan. Dari kebersihan dan kesucian diri ini, kita membersihkan dan mensucikan segala yang kotor : politik yang kotor, ekonomi yang kotor, budaya yang kotor, pemerintahan yang kotor, birokrasi yang kotor, legislatif yang kotor, peradilan yang kotor, aparat yang kotor. Semua yang kotor bisa dibersihkan dan disucikan dengan sarana yang bersih dan suci pula.

11 thoughts on “Menjaga Kebersihan dan Kesucian

  1. terimakasih ustadz, semoga yuli semakin bersih mulai hari ini,
    tapi ada slogan ‘berani kotor itu baik’,bagaimana ustadz?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>