Perjalanan Yogyakarta – Banggai
Oleh : Cahyadi Takariawan
Ditemani seorang sahabat, Iwan Akbar, saya berangkat dari rumah jam 04.30 wib menuju bandara Adisutjipto Yogyakarta. Proses boarding pesawat Wings Air berjalan lancar, dan alhamdulillah berangkat tepat waktu, jam 06.00wib. Kabupaten Banggai, itulah destinasi akhir yang hendak saya tempuh hari ini, Jumat 25/05/2012. Sebuah kabupaten nun jauh di provinsi Sulawesi Tengah.
Wings Air jurusan Yogyakarta menuju Surabaya menggunakan jenis pesawat kecil, ATR 72-500 dengan kapasitas 70 penumpang, ternyata cukup nyaman. Teknologi Perancis membuat image yang lebih terpercaya, dibanding pesawat buatan China atau Sukhoi yang baru saja mengalami musibah. Satu jam pesawat menempuh perjalanan menuju Surabaya, dan transit sekitar satu jam. Kami sempat sarapan pagi di sebuah lounge di bandara Djuanda.
Berikutnya adalah perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, menggunakan Lion Air jenis B 737 – 900 ER. Waktu tempuh sekitar satu jam dan duapuluh menit terasa lancar dan cepat, karena saya berhasil tidur selama penerbangan. Terbangun ketika pramugari meminta saya menegakkan sandaran tempat duduk karena pesawat sudah siap mendarat di Makassar. Tiba di Makassar sekitar pukul 11.00wita.
Transit di Makassar cukup lama, karena jam 16.00 wita baru akan meneruskan penerbangan menuju Luwuk, ibukota kabupaten Banggai. Ada waktu sekitar empat jam di Makassar. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengunjungi “tempat favorit” di Kota Makassar, yaitu Palubasa Serigala. Dengan menggunakan bus Damri bandara, kami berdua menuju kota, untuk mengunjungi gang Serigala.
Tempat kuliner yang satu ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Saya segera memesan menu kesukaan, “Pipi dua porsi, tanpa alas”. Bahasa ini hanya dipahami oleh penikmat Palubasa Serigala. Palubasa adalah sejenis masakan berkuah, ditambah parutan kelapa yang digoreng, adapun isinya adalah daging sapi dengan berbagai varian sesuai kesukaan kita. Disebut Serigala, karena berada di gang Serigala.
“Pipi dua porsi, tanpa alas”, segera dihidangkan. Dua mangkuk Palubasa, berisi daging sapi bagian pipi, dan tidak ditambah telor. Tambahan telor mentah ini yang disebut sebagai alas. Saya kurang bisa menikmati alasnya. Dalam waktu cepat, dua porsi Palubasa, dua piring nasi, segera ludes tanpa sisa.
Hanya itu saja tujuannya. Usai menikmati Palubasa Serigala, segera kami kembali ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Masih ada waktu sedikit untuk berjalan-jalan di lingkungan bandara Makassar, sebelum akhirnya kami dipanggil untuk boarding.
Perjalanan berikutnya adalah rute Makassar menuju Luwuk, kembali menggunakan Wings Air jenis ATR 72-500. Jam 16.00 wita pesawat take off. Waktu tempuh sekitar satu jam dan duapuluh menit, seperti waktu tempuh Surabaya – Makassar. Cuaca cukup bagus, dan berhasil mendarat dengan selamat di bandara Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk yang landasan pacunya hanya 1,8 km. Sangat pendek.
Bandara ini sebenarnya sudah cukup lama, namun mulai dimasuki pesawat besar baru sekitar dua tahun terakhir. Sudah ada maskapai Merpati dan Batavia yang menggunakan jenis pesawat besar, Boeing 737 – 200 dan 737 – 300. Sedangkan Wings Air dan Express Air menggunakan jenis pesawat kecil.
Tepat jam 17.30 wita kami mendarat di Luwuk. Selanjutnya kami dijemput oleh para ikhwah aktivis dakwah di Luwuk, ustadz Iswan, pak Anwar dan mas Nurkholis. Perjalan menuju Kota Luwuk memerlukan waktu sekitar 30 menit. Tiba di Hotel Ananda tempat kami menginap sudah jam 18.30 wita, saatnya shalat Maghrib.
Jika dihitung waktu yang kami gunakan sejak berangkat dari rumah, hingga tiba di kota Luwuk, ternyata menghabiskan 14 jam. Seperti perjalanan dari Yogyakarta menuju Jeddah !
Luar biasa Indonesia, negeri yang sangat luas wilayahnya….. Berjalan dari Yogyakarta menuju Banggai, sama lamanya dengan perjalanan dari Yogyakarta menuju Jeddah….
Maka pak Anwar, Ketua Yayasan Madani Luwuk Banggai mendoakan, “Semoga perjalanan Pak Cah mendapat pahala seperti haji”. Aamiin……



Wah..
Pak Cah,
sudah pernah ke Luwuk padahal dari Yogya…
Sedangkan ana yg dari Palu saja belum pernah…
Subhanallah Pak Cah sampai ke Luwuk. Karena keindahannya LUWUK di juluki sebagai “Litle Hongkong”. Ana pernah tinggal disana satu tahun enam bulan, kota kecil yang nyaman dengan kehangatan dan keramahan masyarakatnya. Terkenang dengan Pantai Kilo Lima, teluk lalong dan bukit inspirasi di keles. Pokoknya kalau sudah di Luwuk maka Lupa Waktu Untuk Kembali. Bravo ustadz Iswan, Ustadz Anwar, Mas Sinung dan Ummahat Fillah.
ya… kota luwuk yang tak terlupakan, eksotik tempatnya.tapi ikhwa posopun berharap semoga suatu waktu kamipun di kunjungi oleh ustad cah bersama istri…aamiin…!
insyaallah moga bisa segera ke Poso….
Matur nuwun sekali ya pak Cah sudah mau berkenan mengunjungi kota Luwuk nun jauh di mato….salam untuk pak iwan (peserta pelatihan kel sakinah )