Oleh : Cahyadi Takariawan
Truk-truk besar itu membuat macet lalu lintas. Jalan yang sangat jelek, dilewati armada pengangkut bahan tambang, batu, pasir, tanah. Dibawa ke kota, Jakarta dan sekitarnya. Dikeruk dari Parungpanjang. Muatan yang melebihi ketentuan, jumlah armada yang terus bertambah, jalan yang sempit, tidak ada drainase yang memadai, saling mendukung untuk semakin merusak jalan dan memacetkan lalu lintas.
Setiap hari. Siang dan malam tiada henti. Truk-truk itu melaju membawa harta kekayaan Parungpanjang. Entah siapa yang kaya, entah siapa yang menderita. Siapa yang peduli itu semua.
Pemerintah setempat, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, pasti sudah tahu kondisi itu. Pemberitaan jeleknya jalan Parungpanjang setiap hari menghiasi media lokal dan nasional. Tapi, siapa peduli.
Korban terus berjatuhan. Kecelakaan hampir setiap hari. Siapa peduli ? Nyawa warga harganya sudah murah sekali.



Kondisi yang sama adalah truk2 pengangkut Aqua dari daerah Bogor ke Jakarta
mestinya angkutan seperti ini dialihkan dengan menggunakan kereta api barang sehingga tidak menambah kemacetan
Subhanallah. Jazakallah sudah menulis tentang buruknya jalan di Parungpanjang Stadz. Ini menjadi qodhoya masyarakat pada umumnya. Mdh2an mendapat perhatian dari pemerintah untuk mencari solusinya.
(Rista-FCC)
insyaallah….. harapan itu selalu ada….
terimakasih Pak Cah telah sudi hadir ke tempat kami yang orang bilang ‘aqshol madinah’ (pelosok negeri). negeri yang masih memendam cita bahwa “harapan itu masih ada” walau korban terus berjatuhan terlindas truck karena ribuan truck yang tidak sesuai tonase senantiasa melintas tanpa ampun.. lebih dari 10 nyawa tewas tahun lalu dan tiap bulan masih terjadi , menjadi ‘tumbal’ pembangunan ibukota. siapa peduli..? namun kami tidak putus asa, akan kami perjuangkan Parungpanjang menjadi Baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghafuur.. Jazakumullah atas doanya ustadz dan juga teman-teman semua..S.O.S !! selamatkan Parungpanjang!
jazakallah ustadz, sudah menyempatkan diri datang ke Parungpanjang, semoga di lain waktu bisa datang ke Parungpanjang lagi dan kondisinya sudah jauh berbeda dari hari ini. Doakan ya ustadz. Amin…
Parungpanjang,..sudah menjdi lanskap Persekongkolan jahat penguasa lokal dan Pengusaha rakus yang tak kenal kata empathi pada derita rakyatnya sendiri,..setiap waktu korban berjatuhan dgan kondisi mengenaskan,.. ,.Penguasa cuma tersenyum sinis ,sambil bertitah pongah:..”Emang Gue Pikirin”,.. Betul-betul Potret kelam ‘ Negeri Para Bedebah”.
Terimakasih sudah menyuarakan penderitaan kami Ustadz,..