Oleh : Cahyadi Takariawan
Selepas menikmati sop Kaledo, makanan khas Sulawesi Tengah, sore itu saya langsung menuju Masjid Arqam Baburrahman, yang sering disebut sebagai Masjid terapung. Letaknya di tepian pantai Talise, Kota Palu. Sangat indah masjid ini, membuat betah berada di sekitarnya, sembari menunggu waktu maghrib tiba.
Adzan maghrib berkumandang. Berduyun-duyun warga di sekitar Pantai Talise beranjak menuju masjid nan cantik yeng terapung di atas laut. Suara adzan bergema ditimpa hembusan angin yang cukup kencang, sementara dari arah barat sinar matahari tampak semakin meredup, menimbulkan gurat yang luar biasa indah di atas ufuknya. Subhanallah, perpaduan yang sangat harmoni, antara keindahan pantai, lantunan suara adzan, deburan ombak, hembusan angin, keelokan bangunan masjid, dan semburat cahaya di langit menjelang ditinggalkan sang surya.
Saya segera berwudhu, dan memasuki area masjid yang menjorok masuk ke bagian pantai. Semakin indah saat memasuki bagian dalam masjid. Tidak terlalu luas. Jamaah lelaki hanya tiga shaf dan jamaah perempuan hanya dua shaf, sudah penuh. Tampak jamaah sebagian melaksanakan di serambi bagian samping kanan dan kiri masjid.
Usai shalat maghrib dan berdzikir, saya masih menikmati suasana sekitar masjid. Melihat ombak berdeburan dari bagian selasar. Sinar matahari semakin menghilang, langit kian gelap. Namun keindahan masjid semakin memancar dari kerlap-kerlip warna lampu. Subhanallah, rasanya kerasan berada di masjid Arqam karena suasana yang sangat kondusif untuk tafakur.
Sayang saya tidak membawa kamera. Lewat blackberry saya mengabadikan beberap saat menjelang maghrib, dan setelah maghrib. Tampak warna lampu seperti berubah tertangkap kamera blackberry. Tak seindah warna aslinya. Datang saja untuk menyelami keindahan ibadah di dalamnya.






Subhanallah, kebetulan saya berkesempatan isya’ di masjid itu
Sayang, ga sempet ketemu lagi
waktu di Palu, Ustadz…
Kapan ke Palu lagi…?