browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Tiga Kali Gagal ke Inggris

Posted by on July 30, 2012

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

gambar : Google

*****

Catatan ini tiba-tiba saja saya buat. Saya tidak pernah berpikir untuk menuliskannya, namun tergelitik setelah mendapatkan email dari seorang ikhwah, Salim A. Fillah yang tengah melaksanakan tugas dakwah di Inggris. Saya tersenyum membaca tulisan akh Salim A. Fillah di email, cuplikan kisah perjalanan dakwahnya ke Inggris, Ramadhan 1433 H ini. Berikut bagian dari kisah akh Salim….

*****

Salim A. Fillah : Puasa 19 Jam di London

Berangkat ke UK atas undangan Pengajian Masyarakat Indonesia London Raya – KBRI, saya telah diwanti-wanti tentang puasa musim panas ini. Kini telah menciut beberapa, tapi kala kami datang, Shubuh di London jatuh pukul 03.05 BST (British Summer Time = GMT + 1) dan Maghrib masuk pada pukul 21.50 BST.

Telah terbayang betapa beratnya.

Tapi hatta soal puasa, telah terfirman bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi hambaNya, bukan kesukaran bagi mereka. Menakar puasa di Inggris dengan rasa puasa di Jogja tidaklah pada tempatnya. Sebab, kata ‘musim panas’ di sini berarti mentari cerah menyapa, tapi suhu tetap berkisar 10 – 20 derajat celsius di siang hari. Apalagi kemarin ketika kami diminta ke Belfast, kota di Northern Ireland, sejam penerbangan dari London, mentari lembut sekali; hanya 7-17 derajat saja.

Dan musim panas yang adhem ini kering, bukan lembab. Tak ada peluh. Tak meleleh keringat. AlhamduliLlah, cairan tubuh tak terbuang kecuali oleh kencing yang itupun oleh Allah dibuat jarang sekali.

Nikmat lain adalah; betapa irit baju, tak perlu sering umbah-umbah. Terutama terasa ketika di 2 hari pertama saya sama sekali tak punya pakaian ganti. Singapore Airlines agak ceroboh. Transit yang pendek di Changi karena keterlambatan dari SOETTA membuat bagasi saya tak terbawa dan dijanjikan baru menyusul dengan penerbangan hari berikutnya.

Tiga hari dengan baju luar yang sama (untuk dalaman saya tak tega, hingga terpaksa belanja dengan sedikit mendelik karena meng-kurs-kan harga pada rupiah Indonesia). Tapi ternyata perilaku saya tak langka. Kebanyakan kekawan di Inggris pun biasa memakai baju luarnya berhari dan itu tak apa…

Penyesuaian yang berat agaknya soal jam tidur. Dengan Isya’ jam 23.00, dilanjut tarawih hingga 01.30; pulang dari Masjid harus segera sahur dan shalat Shubuh. Maka larangan tidur bakda Shubuh tetap coba kami patuhi, dengan menunggu mentari menyalak sekitar jam 05.00 BST. Lalu, ambruk, biasanya sampai jam 10.00 dan bisa dilanjut lagi antara Dhuhr – ‘Ashr meski itu kemewahan yang langka terjadi dengan jadwal yang diamanahkan pada kami.

AlhamduliLlah, masyarakat Indonesia di Inggris guyub dan rukun dalam urusan berbuka. Acara pertama, Ifthar di Wisma Nusantara (Kediaman Dubes Hamzah Thayeb) dihadiri kurang-lebih 300 warga. Menyampai pengingat diri bertajuk “Membangun Taqwa dengan Ibadah” kami merasakan indahnya ukhuwah dan gereget belajar Diin yang haus-haus rindu”.

*****

Inggris, Sebuah Kenangan

Inggris, tempat itu memberikan kesan tersendiri bagi saya. Dalam sejarah hidup saya, tiga kali saya gagal ke Inggris.

Pertama, di tahun 2000 saya mendapatkan kesempatan langka, belajar S2 dan S3 dengan fasilitas beasiswa penuh, karena ada seorang profesor yang ingin mencetak “ahli masalah Palestina”. Saya termasuk yang terpilih untuk itu, lewat seorang sahabat, Dr. Sukamta. Namun batal berangkat, karena saya tidak mendapatkan izin dari pimpinan organisasi dakwah tempat saya berkiprah.

“Antum sudah dilantik menjadi pengurus selama lima tahun, dan ini baru mulai tahun pertama. Kok malah mau pergi lima tahun ke Inggris? Bagaimana pertanggungjawaban antum?” Kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang.

Tidak ada kalimat larangan, yang ada adalah kalimat pertanyaan. Namun saya sudah bisa menyimpulkan sendiri. Saya gagal berangkat ke Inggris.

Kedua, di tahun 2002 saya mendapatkan tugas untuk berdakwah keliling Eropa selama satu bulan penuh. Salah satu tujuan dakwahnya adalah ke Inggris. Saya sudah menyanggupi dan siap untuk berangkat. Namun kembali saya gagal berangkat, setelah Ketua Bidang melarang saya berangkat. Sebagai Wakil Ketua, saya harus mentaatinya.

“Kalau hanya dua pekan saya izinkan. Tapi kalau sebulan, saya tidak mengizinkan. Sangat banyak amanah yang harus kita kerjakan pada waktu ini”, demikian alasan Ketua Bidang mengenai larangan saya berangkat ke Inggris.

Ketiga, di tahun 2011 saya mendapatkan undangan dari KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) untuk mengisi suatu konferensi muslim. Saya sudah menyatakan sanggup dan siap berangkat. Namun akhirnya gagal berangkat karena sebuah Bidang melarang saya untuk berangkat.

Berangkat ke Inggris sepertinya memang lebih sulit dibanding berangkat ke Gunungkidul….

*****

Alhamdulillah, semua kegagalan itu saya nikmati saja. Saya bertanya-tanya, apakah saya memang tertolak masuk Inggris? Karena selalu saja ada alasan untuk membuat batal berangkat. Namun saya sangat yakin, semua sudah berada dalam perencanaan Allah, apapun “sebab” manusiawinya. Saya hanya menjalani.

8 Responses to Tiga Kali Gagal ke Inggris

  1. Karma.S

    * Berarti rumusan JANGAN SAMPAI KETIGA KALI sesuai syair lagu dangdut tidak berlaku ya, soalnya yang ketiga pun masih gagal…….kalau saya sih mengijinkan lho bro Cahyadi berangkat ke Inggris/British/England/Britania Raya……

    * Mungkin kalau berangkat ke Ceko akan lancar-lancar saja tuh bro……

    * Selamat menunaikan saum, semoga semakin meningkat kualitas iman kita……

    • pak cah

      Hahahaha…. Terimakasih Bro Karma, harus ada back up dari Bro Karma nih agar bisa berangkat ke Inggris…..

  2. sedulur turi

    Saya ketemu Ustadz Cahyadi dan Ustadz Salim saja sudah senang …apalagi ketemu Ustadz Cahyadi dan Ustadz Salim di Inggris…mantap! Amin

  3. Arya Sandhiyudha

    ustadz, saya memahami artikel ini lebih sebagai pesan implisit tentang “kepemimpinan level 5″ lebih prior dari “high capable individual”. Benar atau keliru? Afwan

  4. imanskh

    Keta’atan pak Cah sangat patut dicontoh, walau berat melaksanakan tapi iklhas dijalani,,,,

  5. Sunu Wibirama

    Insya Allah mangke dipungantos ingkang langkung sae Pak Cah…
    Mungkin saja nanti dapat undangan di Belanda…atau negara tetangga, terus bisa mampir sebentar :)

    Salam dari Jepang
    *yang dulu pernah ketemu Pak Cah di Thailand :)

  6. wiwik

    hehe afwan seru ustadz…semua bukan kebetulan, Allah maha mengatur segalanya..smg ustadz tahun ini bisa berkunjung ke inggris.amin

  7. Rahmatia

    Berangkat ke Inggris sepertinya memang lebih sulit dibanding berangkat ke Gunungkidul….

    ya IYYALAH tadz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>