browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Catatan Harian di Republik Ceko (2)

Posted by on October 28, 2010

Oleh : Cahyadi Takariawan

Rabu 27 Oktober 2010

Hari keempat di kota Praha, masih sangat menikmati bangunan-bangunan megah yang telah berdiri sejak sebelum perang dunia kedua, dimana Praha termasuk kota yang tidak dihancurkan. Bangunan berarsitek gotik, barok, renaissan dan neo-renaissan masih terawat dengan sangat apik, rapih dan elok dipandang mata. Sepanjang mata memandang, yang tampak hanyalah indahnya bangunan tua yang kokoh namun eksotis.

Bangunan tersebut selama dalam kekuasaan rejim komunis Cekoslovakia, dikuasai oleh rejim. Namun kehancuran komunisme di Eropa Timur menyebabkan angin demokrasi memasuki seluruh wilayah yang dulu sedemikian tertutup. Salah satu dampaknya, pemerintahan Ceko yang kapitalis mengembalikan hak kepemilikan rumah dan tanah kepada rakyat. Kini bangunan megah tersebut menjadi pusat perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan sekaligus tempat hunian warga.

Berjalan melintasi gang-gang kecil di Praha sangat menyenangkan. Suasana sangat bersih dan rapih. Mobil diparkir dengan rapi di pinggir jalan. Kita bisa leluasa berjalan di gang tanpa khawatir akan tersenggol kendaraan bermotor, karena suasana sangat lengang dan hampir tidak dijumpai motor. Penduduk sangat sedikit, sehingga jarang sekali dijumpai keramaian manusia di gang-gang tersebut. Sore hari saya menyempatkan waktu menikmati berjalan kaki di gang yang lengang dan tenang. Suasana bertambah eksotis oleh cuaca musim gugur yang dingin, dan daun-daun tampak berwarna-warni.

Rasanya tidak pernah bosan memandangi keindahan kota Praha, dari ujung ke ujung lainnya. Trem-trem berjalan di rel berdampingan dengan mobil dan bus yang lalu lalang secara tertib dan teratur. Tidak terdengar suara klakson. Tidak terdengar suara keributan orang menawarkan tumpangan atau dagangan. Orang-orang Ceko tampak terbiasa berjalan dengan langkah cepat, sesuai irama kesibukan yang mereka miliki dan bentuk tubuh yang tinggi. Bahkan di Hotel Thalia tempat saya menginap, suasanapun senyap kendati banyak tamu.

Yang menjadi masalah adalah perut dan selera saya. Menu makan pagi di hotel bukan selera saya yang amat kampungan. Masovy spiz, quesadillas, zapecena ciabata, nachos omackami dan beraneka pilihan lainnya, tak menarik perhatian. Saya hanya mengambil dua butir telur ayam rebus, satu potong kue dan kopi panas. Itu saja yang bisa masuk ke perut orang kampung ini. Bahkan, rekan-rekan KBRI akhirnya memaklumi selera saya, sehingga beberapa kali diajak makan di kedai Thailan atau Vietnam yang menyediakan menu Asia. Intinya adalah nasi !

Beberapa teman meledek saya yang seleranya “tidak internasional”. Setiap diajak makan di restoran, minuman yang saya pesan selalu hot jasmine tea atau hot green tea. “Itu mah di Jogja banyak”, celetuk teman-teman seperjalanan. Saya tidak rewel, karena saya makan saja apa yang disediakan. Namun selera tidak bisa dibohongi. Sejauh-jauh orang pergi, masakan yang paling enak adalah yang dihidangkan di rumah dan di kampung halaman. Percayalah, kita selalu terkenang cita rasa masakan ibu yang telah membesarkan kita hingga dewasa. Saya juga terkenang masakan istri di rumah, dan masakan khas di tanah air.

Sembari menikmati sarapan pagi di ruang breakfast hotel Thalia, dengan dilayani wanita Ceko yang terkenal cantik, saya terbayang gudeg Gejayan di sebelah masjid Ash Shabar. Ya ampun, makanan Ceko tidak mampu saya nikmati. Selera saya tetap kampung halaman. Kemarin malam diajak menikmati spagheti a-la Czech di sebelah Karl Bridge, menghadap sungai yang indah dan tenang mengalir. Namun keindahan suasana tidak bisa mempengaruhi cita rasa dan selera. Sembari menyantap spagheti yang hanya habis sepertiga porsi, saya terbayang gudeg Permata di samping bioskop Permata Jogja, atau gudeg Pawon yang buka jam setengah duabelas malam di Janturan, atau gudeg ceker milik saudaranya pak Amin Rais di depan sekolah Budi Mulia Dua Seturan.

“Wong ndeso”, mungkin itu yang ada di pikiran teman-teman perjalanan menyaksikan saya tidak mampu menghabiskan satu porsi spagheti. Mau diapakan lagi. Padahal baru saja paginya mendapatkan nasihat berharga dari Pak Palgunadi Setyawan, agar menghindarkan diri dari kemubadziran. Beliau mencontohkan selalu menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Saya belum bisa, apalagi spagheti tersebut bukan pesanan dan permintaan saya. Setiap ditanya mbak Imelda dari KBRI, “Mau makan apa Pak?” Saya selalu menjawab, “Yang penting ada nasinya”. Kentang dan roti itu bagi saya tidak bisa menggantikan nasi.

Di Ceko tidak ada rumah makan Indonesia, mengingat komunitas masyarakat Indonesia sangat sedikit, hanya sekitar 170 orang. Dulu sempat ada Kedai Sate di Praha, milik warga Indonesia asal Bandung, namun sekarang sudah tutup karena pemiliknya sudah tua. Kalau warga Indonesia ingin menikmati masakan tanah air, harus memasak sendiri. Atau membeli di rumah makan Thailan dan Vietnam yang cukup banyak dijumpai di Praha. Banyak orang Vietnam tinggal di Ceko karena sejarah komunisme yang berkuasa di Cekoslovakia selama lebih dari empat puluh tahun. Orang-orang Vietnam didatangkan oleh pemerintah Komunis Cekoslovakia untuk menjadi pekerja, dan sekarang mereka menjadi citizen atau permanen resident di Ceko dalam jumlah yang cukup banyak.

Inilah salah satu dialog budaya, kalau tidak ingin dikatakan sebagai perbenturan. Cita rasa masakan adalah budaya lokal, dan sangat lokal. Dari kecil hingga tua sekarang, saya dibentuk, dididik dan dibesarkan dalam budaya lokal tanah air Indonesia. Kendati telah beberapa kali mengunjungi negara-negara di luar negeri, namun selera tetap kembali ke tanah air. Betapapun saya sangat mengagumi keindahan kota Praha, namun tetap mencintai Indonesia dengan segala potensi dan permasalahannya. Tetap mencintai kuliner asli Indonesia. Tetap mencintai suasana kampung halaman.

Saya merinding mendengar Pak Radjab Semendawai, teman seperjalanan, menyanyikan lagu Tanah Airku karya Ibu Sud. Tadi pagi saat melakukan perjalanan darat naik bus dari Praha menuju Brno selama hampir empat jam, pak Radjab mengajak saya menyanyi di bus. Lagu lama, termasuk lagu perjuangan yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.  Saya tidak hafal teksnya, walau hafal nadanya. Namun karena pak Radjab mengulang-ulang menyanyikan lagu itu, akhirnya sayapun ingat dan bisa menyanyikan….

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak  negri  kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Sungguh, saya menangis menyanyikan lagu itu di tanah orang lain. Kendati Ceko sangat elok, namun tidak memiliki laut. Wilayahnya sangat kecil, tidak memiliki potensi sumber kekayaan alam yang memadai. Indonesia sangat luas, memiliki laut, memiliki gunung, memiliki banyak potensi sumber kekayaan alam yang melimpah ruah. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman, kata Koesplus. Memiliki sejarah perjuangan yang heroik dan berdarah-darah. Memiliki epos kepahlawanan. Dan yang penting lagi, memiliki banyak potensi kuliner……

Saya sangat mencintai Indonesia.

8 Responses to Catatan Harian di Republik Ceko (2)

  1. fany

    dalam rangka apa pak ke Ceko? Sudah dapat apa saja? :)

    • pak cah

      Dalam rangka belajar pengelolaan pemerintahan paska lepasnya Ceko dan Slowakia, serta paska kehancuran rejim komunis eropa Timur. Insyaallah banyak ilmu didapat.

  2. skirno

    Klatak pak Pong ikut diingat saat di ceko, he….

  3. iwan

    Pak Cah, lain waktu bawa kompor, beras, teko… ha..ha

    • pak cah

      Iya prof, sama bawa bumbu khas indonesia : cabe, bawang merah, bawang putih, terasi, tempe dll…..

  4. shakanti

    Pak, bisa diceritakan kah tentang terkait sumber daya manusia di republik ceko tsb? Terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>