Oleh : Cahyadi Takariawan

Saya yakin, anda sudah pernah mendapat kiriman kisah Stephen R. Covey berikut. Saat Stephen R. Covey mengajar tentang Manajemen Stress dan bertanya kepada para peserta kuliah, “Menurut anda, kira-kira berapa berat segelas air ini?” Jawaban para peserta sangat beragam, mulai dari 200 gram sampai 500 gram.
“Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah berat absolutnya. Tetapi berapa lama anda memegangnya,” ungkap Covey.
“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya,” lanjutnya. Read more »
Oleh : Cahyadi Takariawan

Ada sangat banyak hal menarik di kawasan Chowkit, di pusat kota Kuala Lumpur. Tiga hari kami menginap di Hotel Cititel, serasa berada di tanah air. Yang membuat saya merasa tengah di Malaysia hanyalah, setiap saya melihat jendela di kamar hotel, tampaklah menara kembar Petronas dengan sangat jelas. Saya baru ingat kalau tengah berada di Malaysia.
Di kawasan Chowkit, terdapat berbagai pusat perbelanjaan. Sejak dari pasar tradisional, hingga pusat perbelanjaan modern. Pasar Chowkit merupakan “pasar basah” terbesar di Kuala Lumpur. Terletak di Jalan Tun Abdul Rahman, pasar ini tidak pernah mati, duapuluh empat jam senantiasa hidup menyediakan berbagai keperluan sehari-hari. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, daging ayam, daging sapi sampai berbagai makanan, lengkap tinggal kita pilih sesuai selera. Semua serba segar.
Pasar Chowkit seakan sudah menjadi pasar milik masyarakat Indonesia. Konon, dulu hanya keturunan Minang yang banyak berjualan, namun kini keturunan Jawa dan Aceh juga banyak meramaikan pasar Chowkit. Di pasar ini terdapat puluhan toko jamu khas Indonesia, berjejer di sepanjang jalan, sebagian besar milik warga keturunan Aceh. Read more »
Categories: GORESAN KECIL
|
Oleh : Cahyadi Takariawan

Hari Ahad (06/05/2012) kembali saya diminta mengisi Studium General Sekolah Murabbi di Bantul, Yogyakarta. Ada banyak aktivis yang menganggap sedemikian sulit menjadi Murabbi. Mereka membayangkan hal-hal yang berat dan rumit dalam melaksanakan amanah sebagai Murabbi, dan pada saat yang bersamaan merasakan sejumlah kekeurangan dan kelemahan diri. Seakan-akan seorang Murabbi dituntut memiliki semua bidang keilmuan dan keahlian, yang sampai akhirnya seseorang bisa merasa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi Murabbi selama-lamanya.
Apabila ditilik dari ruang lingkup makna tarbiyah, akan sangat mudah dipahami bahwa aktivitas tarbiyah tidaklah identik dengan proses mentransformasikan keilmuan semata-mata. Jika tarbiyah hanyalah peristiwa transformasi keilmuan, yang diperlukan memang sosok Murabbi yang menguasai dan mendalami seluruh ilmu. Jika ini yang dimaksud, maka ia adalah seorang pengajar atau mudaris, yang berkewajiban mentransfrer sejumlah ilmu kepada anak didiknya. Bukan seorang Murabbi. Read more »
Di Restoran
Sapardi Djoko Damono

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.
Oleh : Cahyadi Takariawan

Akhir-akhir ini saya sering diminta mengisi sesi Sekolah Murabbi yang diadakan para aktivis dakwah di berbagai tempat. Sebuah program yang sangat strategis untuk membentuk kepribadian, pengetahuan, ketrampilan para murabbi yang akan diterjunkan melakukan proses pembinaan (tarbiyah) di tengah masyarakat. Sebenarnya, siapakah murabbi, dan apakah tarbiyah itu?
Murabbi atau pembina adalah sosok pribadi yang melaksanakan kegiatan tarbiyah, yaitu membina, membimbing, mendidik satu atau beberapa kelompok kader, yang mengarahkan para kader tersebut menuju kepada sejumlah tujuan yang telah ditentukan. Setiap kelompok, terdiri dari beberapa orang binaan, bisa lima orang, sepuluh atau bahkan limapuluh dan seratus orang. Mereka memiliki suatu ikatan dalam sebuah tatanan, yang memiliki tujuan bersama.
Dalam sebuah kegiatan pembinaan (tarbiyah), ada interaksi aktif dan positif antara seorang pembina dengan para anggota binaannya. Ciri kegiatan pembinaan yang dimaksud adalah, (a) merupakan aktivitas sebuah jama’ah (b) memiliki tujuan yang terdefinisikan (c) memiliki sistem yang jelas, baik dalam aspek kurikulum, metoda pembinaan, tahapan, penilaian, evaluasi dan promosi (d) ada interaksi timbal balik yang sangat dekat dan mempribadi antara pembina dengan peserta dan antara sesama peserta, yang sesuai dengan tujuan pembinaan (e) pertemuan bersifat rutin dengan kegiatan yang variatif. Read more »
Oleh : Cahyadi Takariawan

Pergerakan dakwah tidak terasa telah mencapai usia kematangan dan kedewasaan, sebagaimana pula usia para aktivisnya. Anak-anak muda aktivis dakwah kampus pada dekade tahun 1980-an yang tertarbiyah dalam wadah pergerakan, mereka kini telah menjadi orang tua yang anak-anak mereka mulai memasuki usia remaja, sebagian sudah memasuki dunia kampus, bahkan sebagian lain telah lulus kuliah, menikah dan memiliki anak-anak.
Generasi pertama pergerakan dakwah, telah melahirkan anak-anak dan bahkan sebagian telah menimang cucu. Maka muncullah kebutuhan untuk melakukan program tarbiyah anak kader (TAK), untuk meneruskan perjuangan para pendahulu, sekaligus melakukan regenerasi nilai dan pewarisan manhaj kepada anak-anak kader. Ada sejumlah kekhawatiran bahwa anak-anak kader mengalami disorientasi, yang tidak mencerminkan semangat orang tuanya.
Program tarbiyah anak kader pun digulirkan melalui berbagai format dan kegiatannya. Semua dalam rangka menyiapkan generasi berikutnya dalam pergerakan dakwah, yang berkesinambungan dari orang tua ke anak-anak dan cucu-cucu, agar tetap berada dalam rel dakwah. Alhamdulillah, program ini telah bergulir dimana-mana, di seluruh Indonesia bahkan di manca negara. Read more »
Oleh : Cahyadi Takariawan

Mengunjungi Melbourne tidak akan terasa lengkap jika tidak berkeliling Sovereign Hill. Sebuah tempat yang artistik, mengajak kita hidup di tahun 1850. Sejak memasuki arealnya yang cukup luas, kita menyaksikan suasana masyarakat koboi, sejak dari cara berpakaian, bentuk-bentuk bangunan, sarana transportasi, suasana kota kuno, dan berbagai perlengkapan yang ada di dalamnya benar-benar membuat kita serasa berada di tahun 1850.

Nama lokasinya adalah Ballarat, yang terletak di sebelah barat Melbourne, ibu kota Negara Bagian Victoria, Australia. Jarak dari kota Melbourne ke Ballarat sekitar 110 kilometer. Kita bisa menempuhnya dengan dengan mobil atau bus, bisa juga ditempuh sekitar satu jam dengan kereta api dari Melbourne’s Southern Cross Station. Nama Ballarat sendiri terdengar agak asing, karena memang berasal dari bahasa Aborigin, “Balla Arat”, yang artinya istirahat (rest) atau tempat berkemah (camping place). Read more »
Categories: GORESAN KECIL
|

Wonderful Family
Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang berbahagia di dunia maupun kelak di surga. Termasuk dalam kehidupan keluarga. Tidak ada seorangpun yang menghendaki keluarganya rusak dan berantakan, tidak ada orang yang ingin rumah tangganya hancur dengan mengenaskan. Semua orang membayangkan keindahan saat memasuki kehidupan berumah tangga.
Cobalah jujur, apa yang anda bayangkan tentang keluarga ? Apa yang ingin anda harapkan dari keluarga ?
Saya yakin anda pasti setuju, jika harapan itu berada dalam kehangatan keluarga. Harapan itu ada pada keluarga yang dipenuhi rona keindahan, diliputi oleh kebahagiaan. Keluarga yang memunculkan produktivitas, keluarga yang menghadirkan kontribusi bagi masyarakat luas. Sebuah keluarga yang menghargai potensi, menjunjung tinggi budi pekerti, menghormati nilai-nilai. Sebuah keluarga yang mentaati tatanan Ilahi, mengikuti tuntunan Nabi.
Itulah yang saya maksud sebagai Wonderful Family.
Selamat menyimak buku terbaru saya, “Wonderful Family : Merajut Keindahan Keluarga”, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia. Siap dibedah di 100 kota se Indonesia. Launching untuk mancanegara dilaksanakan di Kuala Lumpur dan Selangor, Malaysia, 1 – 3 Mei 2012.
Oleh : Cahyadi Takariawan

Anda pasti pernah membaca anekdot berikut, yang sudah sangat banyak beredar di berbagai blog, web dan milis. Kisah seorang anak cadel, yang tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Setiap kali mengucapkan huruf “r”, selalu tertukar dengan “l”. Si anak cadel kerap menjadi bahan olok-olokan orang di sekitarnya. Sering ditertawakan dan bahkan dijadikan bahan ledekan.
Kisah Hari Pertama
Si anak cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal di dekat rumahnya. Dengan penuh percaya diri, ia menghampiri penjual nasi goreng, dan segera memesan.
“Bang, beli nasi goleng satu”, kata si cadel.
“Beli apa…?” tanya penjual bernada meledek.
“Nasi goleng !” jawab si cadel.
“Apaan sih?” tanya penjual semakin meledek.
“Nasi goleng bang!” si cadel semakin keras menjawab.
“Ohh nasi goleng… Silakan tunggu dulu, saya golengkan…” Read more »
Categories: GORESAN KECIL
|
Oleh : Cahyadi Takariawan

Pernahkah anda menghitung, berapa biaya “pembuatan” tubuh kita ? Ah, tentu mustahil bisa menghitung. Tapi kita bisa menghitung pembuatan anggota tubuh palsu. Sebuah “bengkel” pembuatan kaki palsu di Jawa Timur menyatakan mampu membuat kaki palsu dengan biaya murah dan terjangkau masyarakat, yaitu seharga 80 juta rupiah untuk sepasang kaki palsu. Murah meriah, namun tetaplah kaki palsu yang tidak akan pernah sama dengan aslinya. Ya, tentu harga itu sangat murah, karena diproduksi dengan segala bahan yang sederhana di Jawa Timur.
Perusahaan mobil Mercedes telah mengabulkan keinginan seorang penggemar Formula One bernama Matthew James untuk memiliki tangan bionik i-LIMB Pulse. Pemuda yang cacat sejak lahir itu menulis pada boss F1 dari tim Mercedes GP Petronas, Ross Brawn, meminta donasi sebesar 35 ribu euro atau lebih dari Rp 400 juta sebagai biaya pembuatan tangan palsu. Ini tentu kualitas tangan palsu yang lebih bagus dibandingkan kaki palsu produk Jawa Timur tersebut. Namun tetap tangan palsu, yang tak akan pernah sama dengan aslinya.
Anda pernah mengunjungi museum Madame Tussauds ? Di dalamnya kita akan menyaksikan patung lilin tokoh-tokoh dunia, sejak tokoh negara, politisi, artis, dan lain sebagainya. Bentuk patung itu sangat mirip dengan aslinya, sehingga jika kita berpose di samping patung tersebut, akan tampak seperti sedang bertemu sang tokoh. Sulit membedakan, karena seperti benar-benar hidup, saking miripnya. Read more »
Categories: GORESAN KECIL
|